Kasus demam berdarah Indonesia 2020 turun dari tahun sebelumnya – Kontan

ILUSTRASI. Pasien penderita demam berdarah dengue (DBD) dirawat di RS Omni Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (1/4/2016). Per 12 Februari 2020, ada 6.639 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 49 kematian di seluruh Indonesia.

Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, berdasarkan data per tanggal 12 Februari 2020, sudah ada 6.639 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan 49 kematian di seluruh Indonesia.

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu pada tanggal yang sama, kasus DBD sudah sampai 160.000-an dengan angka kematian hampir 10.000, kalau kita melihat angkanya sekarang masih di bawah tahun yang lalu,” ujar Nadia di Gedung Kemenkes, Jumat (14/2).

Dari 6.639 kasus tersebut, ada empat daerah yang mengalami peningkatan kasus DBD, yaitu Kabupaten Sikka, Temanggung, Lampung Tengah, serta Ciamis. Secara detail, jumlah kasus penderita DBD di Kabupaten Sikka mencapai 580 kasus dengan 4 kematian.

Baca Juga: Penyakit demam berdarah menyerang 31 warga di Jombang 1 balita meninggal dunia

Jika dibandingkan, angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 520 kasus dengan 17 kematian. Dengan adanya peningkatan jumlah kasus ini, maka Kabupaten Sikka menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap penyakit demam berdarah.

Selain itu, Nadia juga menyatakan ada beberapa daerah yang selalu mengalami potensi peningkatan kasus DBD, yaitu wilayah Jakarta dan Jakarta Timur. Namun, kata Nadia, tahun ini wilayah Jawa Timur sudah berhasil menekan angka kesakitan dan kematian. “Tahun ini Jawa Timur sudah berhasil menekan angka kesakitan dan kematian, meskipun begitu daerah ini tetap menjadi daerah kewaspadaan untuk kami,” ungkapnya.

Untuk saat ini, belum ada status khusus yang ditetapkan oleh Kemenkes untuk mewaspadai peningkatan kasus DBD. Namun, Nadia menekankan agar masyarakat Indonesia tetap mewaspadai penyebaran penyakit ini, serta melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Apalagi peningkatan kasus DBD sangat bergantung pada perubahan musim.

Baca Juga: Sebanyak 186 orang diduga terjangkit DBD di NTB

Labih lanjut, Nadia menyatakan sejak Oktober 2019 lalu, pihaknya telah melakukan sosialisasi dengan mengirimkan surat edaran dari Menteri Kesehatan (Menkes) dan diikuti dengan surat edaran dari Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes mengenai pencegahan penyakit DBD.

Tak hanya itu, pihak Kemenkes juga telah mengirimkan surat kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Tujuannya adalah, agar pihak Kemendagri bisa mengingatkan bupati, gubernur, dan walikota di berbagai daerah untuk mengaktifkan gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik), serta melakukan pembersihan sarang nyamuk.

Nadia menambahkan, saat ini penyebaran penyakit DBD secara umum disebabkan karena pembuangan sampah yang tidak terlalu baik. Jadi, apabila dulu nyamuk penyebab DBD rata-rata berada di dalam rumah, sekarang nyamuk tersebut juga sudah menyebar hingga daerah luar rumah.

Baca Juga: Demam tanpa flu atau batuk, waspadai demam berdarah

“Sebenarnya masyarakat sudah cukup baik di penampungan air, karena sudah sedikit jentik nyamuknya. Tapi ternyata kami lihat di halaman belakang masih banyak botol berserakan, bekas kemasan minuman, dan ada sumur yang terbuka, ini yang menjadi suatu kewaspadaan bagi kita untuk selalu memperhatikan lingkungan sekitar,” kata Nadia.







<!–

–>
<!–

Video Pilihan

–>

<!–

–>

Reporter: Rahma Anjaeni
Editor: Wahyu Rahmawati


<!–

KESEHATAN

–>


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Zitub.com 2020